Yogyakarta 2009



Yogyakarta 2009


Abdul Syukur
Karya saya untuk Yogyakarta Gathering 2009 ini merupakan respon atas persoalan-persoalan tentang batik yang muncul di Indonesia beberapa waktu belakangan ini: pertentangan Indonesia dengan Malaysia soal klaim kepemilikian dan asal-usul batik, dan juga dampak industrialiasi batik (batik cap dan batik cetak-tekstil) terhadap batik tradisional (batik tulis). Karya ini ini mempertanyakan kembali soal warisan tradisi, keaslian, dan batas-batas inovasi batik.
Saya merencanakan membuat sebuah karya batik dengan teknik batik cap dan batik tulis bersama komunitas pembatik tradisional di Giriloyo, Imogiri. Secara khusus saya akan berkesperimen dan melakukan penafsiran ulang atas motif batik parang barong. Saya juga merencanakan menyelenggarakan workshop Membuat workshop batik bersama dengan para seniman partisipan Yogyakarta Gathering ini.
Abdul Syukur lahir pada tahun 1979 di Cilacap, Jawa Tengah. Dia belajar kriya tekstil di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, dan kini juga belajar antropologi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Abdul bekerja dengan komunitas-komunitas batik tradisional di Yogykarta: Giriloyo (Kelompok Berkah Lestari), Trimulyo (Kelompok Batik Sekar Nitik), dan Wijirejo Pajangan (Kelompok Hadi Batik). Bersama komunitas-komunitas ini dia berupaya menggali kembali teknik-teknik batik dan pewarnaan kain tradisional, serta mendorong penafsiran baru atasnya. Pameran-pameran seni serat yang diikutinya di antaranya: Fiber Speaks dan Textstyle (2009), Asia Fiber Art Exhibition (2008), dan Fiber Face (2007).
Abdul Syukur
Abdul’s work for the Yogyakarta gathering is a response to current issues that have arisen around the production of Batik. These include Malaysia’s claims of copyright over all batik-related products produced in Indonesia and the impact of industrialisation (machine-printed batik) on the traditional batik industry. This work calls in to question issues of cultural heritage, authenticity and the limits of batik design innovation.
Abdul plans to make a batik work using the two traditional methods of ‘stamping’ and ‘writing’ with a traditional batik collective in Giriloyo, south of Yogyakarta. He will experiment with and reinterpret the local batik motif parang barong. South participants are encouraged to observe this process and take part in batik workshops. While learning about traditional designs participants will have the opportunity to engage in in-depth discussions about the issues facing the traditional batik community.
Abdul Syukur was born in 1979 in Cilacap, Central Java. He studied textiles at the Indonesian Art University, Yogyakarta and now studies anthropology at Gadjah Mada University, Yogyakarta. Abdul works with traditional batik communities in Yogyakarta: Giriloyo (Berkah Lestari Group) Trimulyo (Sekar Nitik batik Group), and Wijirejo Pajangan (Hadi Batik Group). With these communities he has revived traditional dyeing methods and batik techniques as well as reinvigorated these styles with modern interpretations. Recent exhibitions include Fiber Face Asia (2007); Fiber Art Exhibition (2008); Fiber Speaks dan Textstyle (2009); and Acronym Wars, Havana Biennal (2009 collaboration with Punkasila Project on batik pattern camouflage+Danius Kesminas ).
http://textstyleproject.wordpress.com/



